20. SALIB RAKSASA

Salib Raksasa, Objek Wisata Baru Toraja Utara

Salib dengan tinggi 30 meter lebar 12 meter ini akan menjadi objek wisata reliji bagi umat kristiani.  Lokasinya yang di atas bukit menyebabkan Salib raksasa bisa terlihat ketika memasuki Toraja Utara.

“Rencana pembangunan salib raksasa ini sejak tahun 1973. Namun sekarang baru bisa dilakukan karena baru mendapatkan dana,” kata kepala dinas pariwisata Toraja Utara Yakin Tandirerung kepada Tempo Ahad 30 Desember 2012.

Salib bukit Singki diresmikan oleh gubernur Sulawesi Selatan Jumat 28 Desember 2012. Peresmian salib sebagai salah satu rangkaian perayaan lovely december di Toraja. Salib ini juga akan menjadi simbol seratus tahun kristen masuk di Toraja. “Tahun 2013 tepat seratus tahun agama kristen masuk di Toraja”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan Jufri Rahman mengatakan, pembangunan salib raksasa ini sebuah terobosan baru yang dilakukan pemerintah daerah.

“Keberadaan salib raksasa ini bukan hanya kebanggaan masyarakat Toraja Utara, tetapi ini bagian dari langkah kreatif yang dilakukan pemerintah daerah untuk memperkuat destinasi Toraja yang akan didorong menjadi pariwisata dunia,” kata Jufri.

Salib raksasa ini akan menjadi yang pertama dan terbesar di Sulawesi Selatan setelah tugu salib raksasa yang ada Papua dan Bitung.

Pembangunan salib raksasa menelan anggaran sekitar Rp 6 miliar setelah pemerintah daerah mengalokasikan anggaran Rp 4,5 miliar dalam APBD Kabupaten Toraja Utara. Sebelumnya pembangunan salib raksasa ini telah menyerap anggaran daerah sebesar Rp 1,5 miliar.

19. TONGKONAN ( Rumah Adat Toraja )

Tongkonan ( Rumah Adat Toraja )

konon bentuk tongkonan menyerupai perahu kerajaan Cina jaman dahulu

Terik sinar matahari terasa semakin menyengat mata pada saat dipantulkan oleh papan berwarna merah yang menopang sebuah bangunan dengan bentuknya bak perahu kerajaan cina, guratan pisau rajut merajut di atas papan benwarna merah membentuk ukiran sebagai pertanda status sosial pemilik bangunan, ditambah lagi oleh deretan tanduk kerbau yang terpasang/digantung di depan rumah, semakin menambah keunikan bangunan yang terbuat dari kayu tersebut. Bentuk bangunan unik yang dapat dijumpai dihampir setiap pekarangan rumah masyarakat Toraja ini, lebih dikenal dengan sebutan nama Tongkonan.
Konon kata Tongkonan berasal dari istilah “tongkon” yang berarti duduk, dahulu rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Tana Toraja. Rumah ini tidak bisa dimiliki oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja. Dengan sifatnya yang demikian, tongkonan mempunyai beberapa fungsi, antara lain: pusat budaya, pusat pembinaan keluarga, pembinaan peraturan keluarga dan kegotongroyongan, pusat dinamisator, motivator dan stabilisator sosial.

Oleh karena Tongkonan mempunyai kewajiban sosial dan budaya yang juga
bertingkat-tingkat dimasyarakat, maka dikenal beberapa jenis tongkonan,
antara lain yaitu Tongkonan Layuk atau Tongkonan Pesio’ Aluk, yaitu Tongkonan tempat menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan.

18. PASAR HEWAN RANTEPAO

Pasar Hewan Rantepao, Pasar Jutawan dan Milyarder

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO – Pasar Hewan di Kawasan Pasar Bolu, di Jalan Poros Rantepao – Palopo, menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Toraja Utara.

Pasar tradisional yang  dibuka dua kali dalam sepekan tersebut tidak seperti pasar tradisional lainnya.

Berbagai jenis kerbau dan babi membanjiri pasar di Toraja Utara ini.

Kerbau dan babi adalah dua jenis hewan yang tak bisa dipisahkan dari upacara adat Toraja, Sulawesi Selatan.

Konsumen di pasar tersebut bukanlah orang biasa, melainkan jutawan

Harga kerbau di pasar tersebut mencapai Ratusan Juta hingga Miliaran.

Begitupula dengan harga babi mencapai Jutaan rupiah.

Setiap pembelian kerbau maupun babi dibayar di tempat.

Pasar ini layak menjadi salah satu agenda kunjungan Anda ketika berkunjung ke Tana Toraja.

Akses menuju pasar tersebut cukup mudah karena dapat dijangkau dengan angkutan umum dari Kota Rantepao.

Tarifnya pun cukup murah hanya Rp.5000 dengan total waktu perjalanan 10 menit saja.

17. UPACARA MA’ NENEK (Tana Toraja)

Upacara Ma’ Nenek (Tana Toraja)

Upacara Ma’Nenek merupakan suatu  upacara menurut keyakinan atau ajaran dari Aluk Todolo dimana upacara yang dikhususkan untuk mengenang dan memeperingati arwah leluhur yang sering disebut Tomembali  Puang.Upacara ini tidak dibatasi oleh waktu ataupun moment-moment tertentu saja,tapi tergantung dari kemampuan keluarga dan hari baiknya saja untuk melaksannakan upacara tersebut.

Upacara tersebut tidak diharuskan dilaksanakan  oleh setiap kelurga di Tana Toraja semuanya tergantung dari kesanggupan keluarga, jadi masyarakat yang ekonominya lemah tidak diharuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa orang sering sulit membedakan Ma’Nenek masuk golongan Rambu Tuka’ Atau Rambu solo’, ada yang mengatakan  upacara tersebut merupakan Rambu solo’ karena mengenai tentang kedukaan dan kematian, tapi jika diperhatikan sebenarnya termasuk dalam upacara Rambu Tuka’ karena dilakukan pada pagi hari saat matahari mulai terbit namun tidak dilaksanakan disebelah timur dari rumah/Tongkonan.

Tujuan Utama dari upacara  tersebut merupakan semata-mata memberikan kurban untuk memperingati arwah leluhur bagi orang yang telah diberkati oleh arwah leluhurnya tersebut.Semuanya itu diyakini menurut ajaran Aluk Todolo (jaman di mana Toraja masih belum mengenal Agama yang kita yakini saat ini).

Upacara Ma’ Nenek terdiri dari bermacam-macam cara melaksanakannya tergantung dari setiap daerah adat yang berada di Toraja .

Beberapa cara pelaksanaannya seperti Ma’Nenek dengan memberi kurban serta mengganti bungkusan kain kafan orang meninggal (leluhur),ada pula yang Ma’ Nenek sekaligus membuka kuburan/liang dan menganti pakaian dari Tau-tau (Patung cerminan orang yang meninggal).Tapi inti dari tiap daerah adat yang melaksanakan Ma’Nenek  yaitu sajian dan kurban kerbau atau babi.

Di daerah adat yang berbeda sering upacara ini bersifat sementara dan menyebutnya dengan Lao Lako  Tomatua (Lao=pergi ; Lako=kepada;Tomatua=Orang tua atau leluhur).Di daerah adat yang berbeda memiliki aturan waktu pelaksanaannya seperti dilaksanakan sehabis panen dan kondisi-kondisi lainnya.

16. UPACARA RAMBU SOLO, PEMAKAMAN KHAS TORAJA

Upacara Rambu Solo, Pemakaman Khas Toraja 

Kategori Sejarah & Budaya

  1. Prosesi Upacara Pemakaman
  2. Penyempurnaan Kematian

Tana Toraja memang terkenal dengan keunikan kebudayaannya. Salah satu budaya Toraja yang unik adalah upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo. Rambu Solo adalah suatu prosesi pemakaman masyarakat Tana Toraja, yang tidak seperti pemakaman pada umumnya.

Melalui upacara Rambu Solo inilah, bisa Anda saksikan bahwa masyarakat Tana Toraja sangat menghormati leluhurnya. Prosesi upacara pemakaman ini  terdiri dari beberapa susunan acara. Dimana dalam setiap acara tersebut Anda bisa menyaksikan nilai-nilai kebudayaan yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh masyarakat Tana Toraja.

Prosesi Upacara Pemakaman

Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi-prosesi tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah, namun saling melengkapi dalam keseluruhan upacara pemakaman.

Prosesi Pemakaman atau Rante tersusun dari acara-acara yang berurutan. Prosesi Pemakaman (Rante) ini diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks Rumah Adat Tongkonan. Acara-acara tersebut antara lain :

  • Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jasad
  • Ma’Roto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
  • Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan.
  • Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.

Prosesi yang kedua adalah Pertunjukan Kesenian. Prosesi ini dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Dalam Prosesi Pertunjukan kesenian Anda bisa menyaksikan:

  • Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban
  • Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu Pa’Pompan, Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
  • Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
  • Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
  • Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.

Penyempurnaan Kematian

Dalam adat istiadat Tana Toraja, masyarakat mempercayai bahwa setelah kematian maih ada sebuah ‘dunia’. ‘Dunia’ tersebut adalah sebuah tempat keabadian dimana arwah para leluhur berkumpul. Serta merupakan tempat peristirahatan. Masyarakat Toraja menyebutnya Puya, yang berada di sebelah Selatan Tana Toraja. Di Puya inilah, arwah yang meninggal akan bertranformasi, menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata). Masyarakat Toraja mempercayai bahwa wujud transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi Upacara Rambu Solo. Oleh karena itu, Rambu Solo juga merupakan upacara penyempurnaan kematian.

Selain itu, Rambo Solo menjadi kewajiban bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena hanya dengan cara Rambu Solo, arwah orang yang meninggal bisa mencapai kesempurnaan di Puya. Maka keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin menyelenggarakan Upacara Rambu Solo. Akan tetapi, biaya yang diperlukan bagi sebuah keluarga untuk menyelenggarakan Rambu Solo tidaklah sedikit. Oleh karena itu, upacara pemakaman khas Toraja ini seringkali dilaksanakan beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun setelah meninggalnya seseorang.

Bukan meninggal, tetapi sakit

Masyarakat Tana Toraja mempercayai bahwa Rambu Solo akan menyempurnakan kematian seseorang. Oleh karena itu, mereka juga beranggapan bahwa seseorang yang meninggal dan belum dilaksanakan Upacara Rambu Solo, maka orang tersebut dianggap belum meninggal. Orang ini akan dianggap bahkan diperlakukan seperti orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah.

Orang yang dianggap belum meninggal ini, juga akan diperlakukan seperti orang yang masih hidup oleh anggota keluarganya. Misalnya dibaringkan di ranjang ketika hendak tidur, disajikan makanan dan minuman, dan diajak bercerita dan bercanda seperti biasanya, seperti saat orang tersebut masih hidup. Hal ini dilakukan oleh semua anggota keluarga, bahkan tetangga sekitar terhadap orang yang sudah meninggal ini.

Maka untuk menggenapi kematian orang tersebut, pihak keluarga harus menyelenggarakan Rambu Solo. Oleh karena biaya yang tidak sedikit, maka pihak keluarga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan dana untuk upacara pemakaman. Biaya untuk menyelenggarakan Upacara Rambu Solo berkisar antara puluhan juta sampai ratusan juta rupiah. Itulah sebabnya mengapa di Tana Toraja orang yang meninggal, baru akan dimakamkan berbulan-bulan setelah kepergiannya.

15. WISATA BATU MENHIR

Wisata Batu Menhir di Bori, Tana Toraja

Satu daerah paling tersohor di Sulawesi Selatan dan bahkan di dunia hanya Toraja. Toraja atau Tana Toraja atau dari kata To Riaja yang berari Orang yang bermukim di daerah atas. Dalam hal ini berarti daerah pegunungan.

Jika berjalan-jalan kesini, 1000 persen budaya dan adat istiadat setempat masih sangat kental. Setelah beberapa kali mengunjungi daerah ini, ada saja hal yang memanjakan mata saya dengan hal yang baru. Semua mungkin sudah sangat familiar dengan acara upacara kematian, atau panorama gunung di Sesean, makam batu di tebing-tebing. Tapi kali ini saya akan menunjukkan satu lagi sisi unik dari Toraja dengan pemandangan batunya. Saya dan keluarga menuju satu tempat yang bernama Bori. Bori atau dikenal dengan Rante Kalimbuang Bori masih terletak di kota Toraja Utara. Ditempat inilah menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO yaitu adanya batu Simbuang. Batu yang menyerupai menhir. Bisa dubilang punya kemiripan dengan stonehengenya Inggris, atau kalau yang ada di Indonesia ada di kebumen.

Menhir dan Tongkonan

Nah,Batu-batu ini ditanam diambil dari gunung- gunung yang ada di Toraja. Untuk membangun situs megalith ini, masyarakat setempat harus mengadakan satu ritual khusus yang bernama “Rapasan Sapurandanan”. Bukan hanya itu, kalau di Toraja nggak korbanin kerbau nggak afdal rasanya. Untuk ritual tersebut jumlah kerbau yang dikorbankan minimal 24 ekor. Menurut kepercayaan adat setempat, semakin tinggi menhir yang didirikan, semakin tinggi pula derajat kebangsawanan seseorang. Untuk menanam batu ini, diperlukan beratus-ratus lelaki. Caranya yaitu dengan ditarik dengan menggunakan batang pohon dan tali temali dari bambu. Kurang lebih sepertiga dari batu ini ditanam dalam tanah.

3M.. Menhir, Me, Marvelous !

tercatat ada 102 batu yang tertanam di kawasan ini dengan beraneka macam ukuran. Untuk para wisatawan, mereka tidak akan dimanjakan dengan batu-batuan itu saja. Akan tetapi, juga bisa melihat beberapa makam yang ada di batu, kuburan bayi dan rumah tongkonan pastinya.

Oval Stone and some bodies in it

Skulls and skeletons

14. BUDAYA TANAH TORAJA

Budaya Tana Toraja | Sulaweai Selatan | Indonesia

   

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki beragam suku bangsa mulai dari Sabang sampai merauke, dari semua suku yang ada di negara yang kita cintai ini memiliki bahasa, tradisi, seni, dan budaya yang berbeda, diantara suku-suku tersebut saya tertarik dengan salah satu suku yang berada di Sulawesi selatan yaitu Toraja. Tana toraja adalah salah satu wisata Indonesia yang sangat terkenal di manca negara, tapi sayang sekali sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri belum mengenalnya. Oleh karena dalam kesempatan ini saya akan membahas tentang Tana toraja karena toraja memiliki banyak keunikan

Sejarah

1) Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao dibawah Self
bestur Luwu.
2) Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri berdasarkan
Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.
3) Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja berdasarkan UU
Darurat Nomor 3 tahun 1957.
4) UU Nomor 22 tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah menjadi
Kabupaten Tana Toraja.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari Luwu. Orang Sidendereng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asalnya To= Tau (orang), Raya= dari kata Maraya (besar), artinya orang-orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal dengan nama Tana Toraja.

Ciri Khas Suku Toraja

Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja. Sekilas terdengar seperti tempat untuk duduk dan menonton sesuatu.

Tongkonan selalu menghadap ke utara. 

Apa itu Tongkonan?
Berdasarkan asal katanya, “tongkon,” artinya memang menduduki atau tempat duduk. Tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan menonton. Tongkonan dikatakan sebagai tempat duduk karena merupakan tempat berkumpulnya para kaum bangsawan Toraja. Mereka biasanya duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah adat.
Bentuk tongkonan amat unik. Kedua ujung atapnya runcing ke atas mengingatkan kita pada rumah gadang dari Sumatera Barat. Ada yang mengatakan bentuknya seperti perahu dengan buritan tapi ada pula yang menyamakannya dengan tanduk kerbau.
Satu hal yang pasti, semua tongkonan Toraja mengarah ke utara. Arah tongkonan serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan bahwa mereka berasal dari leluhur yang datang dari utara. Ketika nanti mereka meninggal pun, mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.
Selain bentuknya yang unik, tradisi tongkonan juga menarik. Menurut kisah setempat, tongkonan pertama dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja.

Tradisi Toraja

Tiap daerah punya tradisi menghormati kematian. Jika di Bali kita kenal dengan istilah Ngaben, di Sumatera Utara, Sarimatua, maka di Tana Toraja dikenal dengan upacara Rambu Solo’. Persamaan dari ketiganya: ritual upacara kematian dan penguburan jenazah. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu: Rambu Solo’ dan Rambu Tuka. Rambu Solo’ merupakan upacara penguburan, sedangkan Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau yang baru saja selesai direnovasi.

Rambu Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu.

Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda. Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari.

Tapi, sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah dapat menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ‘sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.

Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.

Seluruh prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).

Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.

Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat)  
Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Rambu Solo

Positif

Upacara Rambu Solo memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, di antaranya adalah gotong royong dan tolong-menolong. Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena mencari harta untuk dihabiskan dalam suatu kematian, unsur gotong royong yang terlihat sangatlah jelas, contohnya dalam hal penyediaan kerbau. Suatu keluarga yang dirundung duka (yang ditinggal mati) mendapat sumbangan kerbau, babi, atau uang dari sanak keluarganya untuk melangsungkan Rambu Solo.

Unsur tolong-menolong pun juga berperan dalam pelaksanaan Rambu Solo. Upacara ini dilakukan oleh siapa pun yang mampu. Biasanya, ada juga pembagian daging kerbau kepada orang-orang yang tidak mampu. Hal ini menyebabkan adanya pengurangan kesenjangan sosial.
Negatif

Dampak negatifnya lebih banyak dari yang positif. Dalam masyarakat tana Totaja, Orang tua cenderung untuk mempertahankan status sosialnya dalam masyarakat, sehingga yang menjadi tujuan mereka adalah upacara adat dan cenderung mngesampingkan pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Sehingga tidak heran jika orang tua yang demikian, akan selalu mengeluh bahkan menolak untuk membayar uang sekolah, giliran pengadaan dana untuk upacara adat, orang tua selalu siap. Jadi upacara rambu solo’  menjadi prioritas pertama dibandingkan pendidikan anak, lifestyle dan property.
Namun bagaimanakah seharusnya menyikapi hal tersebut?

Orang tua kadang tidak realistis dalam memandang/menargetkan suatu upacara adat, mereka mengeluarkan banyak uang padahal mereka sebenarnya tidak mempunyai sebanyak itu. Sehingga yang terjadi adalah utang sana-sini. Adanya pola pikir yang demikian tentu akan menghambat untuk tidak melakukan hal yang benar dan realistis.
Bukan hanya orang tua, bahkan anakpun ikut serta, Dua tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di perusahaan kayu di Sekatak buji, waktu itu saya mempunyai teman suku Toraja, dan saya bertanya, “ mengapa kamu tiap bulan mengirim uang ke kampungmu?” and he said, “keluarga di kampung sangat membutuhkannya untuk upacara kematian nenekku”. Beberapa bulan kemudian dia memutuskan pulang ke Toraja untuk menghadiri upacara kematian neneknya.
Budaya memang sangat penting, akan tetapi jangan sampai budaya itu menjerumuskan orangnya sendiri, ya kembali lagi harus mengutamakan kebenaran dan realistis. Saya memberi sesuai dengan kemampuan saya.
Religi

Selain dua nilai di atas, nilai religi juga tampak dari upacara Rambu Solo. Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal tak ditakuti karena mereka percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal leluhur. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian.
Dalam upacara kematian Rambu Solo, kesedihan tidak terlau tergambar di wajah-wajah keluarga yang berduka, sebab mereka punya waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat jalan kepada si mati, sebab jenazah yang telah mati biasanya disimpan dalam rumah adat (tongkonan), disimpan bisa mencapai hitungan tahun. Maksud dari jenazah disimpan ada beberapa alasan, pertama adalah menunggu sampai keluarga bisa atau mampu untuk melaksanakan upacara kematian Rambu Solo, kedua adalah menunggu sampai anak-anak dari si mati datang semua untuk siap menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka menganggap bahwa orang yang telah mati namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo ini dianggap belum mati dan dikatakan hanya sakit, karena statusnya masih “ sakit “. Orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup.

 Seni Dan Budaya

Tari Ma’ badong

Tanah Toraja, Sulawesi Selatan memiliki beragan kesenian daerah yang telah mendarah daging secara turun temurun. Salah satu di antaranya adalah Ma’badong. Ma’badong merupakan tarian kedukaan yang diadakan dalam upacara ritual kematian masyarakat Tanah Toraja.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok pada umumnya oleh kaum pria, baik muda atau pun tua, namun wanita juga tidak dilarang. Para penari (pa’badong) membentuk sebuah lingkaran dan saling mengaitkan jari kelingking sambil melantunkan syair dan nyanyian ratapan disertai gerakan tangan dan langkah kaki yang disesuaikan dengan irama lagu. Dulu para ma’badong mengenakan kostum serba hitam namun seiring dengan perkembangan zaman, kostum yang dipakai tidak lagi berwarna hitam.

Penari ma’badong bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti. Suasana malam itu menjadi tambah sakral ketika para penari melantunkan syair atau lagu kesedihan (Kadong Badong). Lantunan syair ma’badong ini berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do’a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau di alam baka.

Lagu dilantunkan oleh si penari ini tidak menggunakan not. Syair dan lagu berisikan semacam catatan sejarah tentang keluhuran budi dan kebesaran jasa tokoh yang telah meninggal dunia tersebut. Lagu atau syair tersebut disebut “BATING” . Bating ini di suarakan oleh Indo’ badong yang mana Indo’ badong tersebut bertugas untuk mengatur setiap syair yang dilantunkan dan bentuk iramanya.

Tarian bergantian, sambung menyambung di pelataran Tongkonan tempat ritual digelar. Lama tarian ma’badong ini biasanya menelan waktu berjam-jam, semalam suntuk, bahkan terkadang berlangsung sampai tiga hari tiga malam sambung-menyambung di pelataran tempat upacara berduka.

Tari Pagellu

Tari Tobacco

Budaya adu kerbau

Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata yang paling terkenal di Sulawesi Selatan. Wisatawan mancanegara menyebutnya sebagai obyek wisata budaya dunia karena keragaman budayanya yang sangat kaya.

Salah satu budaya yang menarik dari Tana Toraja adalah adat Mapasilaga Tedong atau adu kerbau. Kerbau yang diadu di sini bukanlah kerbau sembarangan. Biasanya, kerbau bule (Tedong Bunga) atau kerbau albino yang menjadi kerbau aduan. Kerbau yang termasuk kelompok kerbau lumpur tersebut merupakan spesies kerbau yang hanya ditemukan di Tana Toraja. Selain itu, ada juga kerbau Salepo yang memiliki bercak-bercak hitam di punggung dan Lontong Boke yang berpunggung hitam. Jenis kerbau terakhir ini adalah yang paling mahal dengan bandrol mencapai ratusan juta rupiah. Kerbau jantan yang sudah dikebiri juga bisa diikutsertakan dalam Mapasilaga Tedong ini.
Sebelum adu kerbau dimulai, panitia menyerahkan daging babi yang sudah dibakar, rokok, dan air nira yang sudah difermentasi (tuak), kepada pemandu kerbau dan para tamu. Adu kerbau kemudian dilakukan di sawah, dimulai dengan adu kerbau bule. Adu kerbau diselingi dengan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro Tedong, yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas.
Kerbau adalah hewan yang dianggap suci oleh suku Toraja. Kegiatan budaya ini biasanya ditampilkan saat Upacara Adat Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

13. PANGO-PANGO

Cantiknya Wisata Alam Pongo-Pongo Makale Tana Toraja

 

Suasana objek wisata alam Pango-Pango yang terletak di makale kabupaten Tana Toraja, Sulsel, Kamis (29/12/2016). Bukit Pango-pango berjarak 7 kilometer arah selatan makale dengan ketinggian 1700 mdpl menggabungkan dua unsur wisata yakni alam dan agro. Objek wisata yang terbuka sejak tahun 2013 ini, konon merupakan tempat para tentara Jepang memantau pergerakan musuhnya saat mengusai Toraja. Disini terdapat hutan pinus yang asri dan dari puncaknya dapat melihat Kota Makale secara keseluruhan. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR

TRIBUN-TIMUR.COM -Suasana objek wisata alam Pango-Pango yang terletak di makale kabupaten Tana Toraja, Sulsel, Kamis (29/12/2016).

Bukit Pango-pango berjarak 7 kilometer arah selatan makale dengan ketinggian 1700 mdpl menggabungkan dua unsur wisata yakni alam dan agro.

Objek wisata yang terbuka sejak tahun 2013 ini, konon merupakan tempat para tentara Jepang memantau pergerakan musuhnya saat mengusai Toraja.

Disini terdapat hutan pinus yang asri dan dari puncaknya  dapat melihat Kota Makale secara keseluruhan.  TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR Disini terdapat hutan pinus yang asri dan dari puncaknya  dapat melihat Kota Makale secara keseluruhan.

12. KUBURAN BAYI

 Kuburan Bayi Kambira Tana Toraja

Kuburan bayi ini disebut Passiliran, Lokasi Pekuburan Bayi ini  di Kambira. Hanya Bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra‘. Bayi bayai tersebut dianggap masih suci. Pilihan Pohon Tarra‘ sebagai pekuburan karena pohon ini memiliki banyak getah, yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dan mereka menganggap seakan akan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya. Dan berharap, pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian.

Pohon Tarra‘ yang menjadi pekuburan ini memiliki diameter cukup besar, sekitar 80 – 100 cm sampai 300 cm. Dibuat Lubang pada pohon untuk menguburkan bayi , yang kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Pemakaman ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Pelaksanaan Upacara secara sederhana. Dan Bayi yang dikuburkan begitu saja tanpa di bungkus, ibarat bayi yang masih berada di rahim ibunya.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.
Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. .Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon dan merupakan daya tarik untuk wisatawan

11. MAKULA’ PERMANDIAN AIR PANAS

Makula Wisata Permandian Air Panas Tana Toraja

MATA air panas Makula telah diolah menjadi obyek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Tak lengkap bila tak ke Makula. Nyaman sekali mandi air panas alam di tengah suhu Toraja yang dingin.

Makula terletak di Sangalla, sekitar 24 kilometer sebelah selatan kota Rantepao atau lima enam kilometer di sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Terdapat tiga sumber air panas di Makula yang letaknya saling berdekatan. Di sekitar mata air itu, berdiri beberapa rumah peristirahatan. Pengelolanya sengaja menyediakan kolam-kolam untuk menampung air panas yang dialirkan dari sumbernya. Sambil menikmati keindahan alam di Sangalla, wisatawan dapat berendam air hangat sepuasnya.

Air panas itu muncul dari batu gamping dan batu pasir yang mendominasi struktur tanah Sangalla. Temperatur tertinggi air itu 43,6 derajat celcius pada temperatur udara 22,1 derajat celcius. Sumber panas diperkirakan berasal dari kantung magma di bawah Bukit Kaero. Energi panas merambat melalui bebatuan.

Wisata pemandian air panas (hangat) Makula dapat dicapai dari Rantepao maupun Makale dengan kendaraan pribadi atau fasilitas mobil yang disediakan hotel