10. OLLON

Padang Teletubies yang Super Luas

Padang Hijau nan Indah di Ollon [image source]

Setelah Bromo memopulerkan padang Teletubbiesnya yang memikat, kini giliran Tana Toraja yang unjuk gigi. Setelah semua orang bosan dengan Lolai yang memiliki pemandangan atas awan, banyak orang mulai mencari destinasi baru yang menarik. Akhirnya, Ollon yang awalnya bukan objek wisata mendadak booming dan jadi incaran.

Padang Teletubbies [image source]

Sejatinya, Ollon adalah sebuah lembah biasa yang berada 40 kilometer dari Kota Makale. Namun, setelah beberapa penjelajah memposting gambarnya, kawasan ini langsung viral. Banyak orang berbondong-bondong ke sini dan menyebutnya sebagai padang Teletubbies.

Belum Tersentuh Fasilitas Modern

Ollon yang memukau [image source]

Secara administrasi, Ollon terletak di Kecamatan Bonggakaradeng yang memiliki kontur wilayah berliku-liku. Banyak bukit dan juga padang rumput yang awalnya biasa, tapi setelah terkena bidikan dari para traveler mendadak jadi tenar. Bahkan, warga setempat tidak menyangka bisa jadi seperti ini.

Ollon yang super kece! [image source]

Untuk saat ini, fasilitas yang ada di sana masih sangat terbatas, bahkan kalau kamu ingin makan atau minum disarankan membawa dari kota. Ollon masih akan dikembangkan oleh pemerintah setempat mulai dari akses ke lokasi hingga fasilitas dasar seperti MCK yang wajib dimiliki oleh objek wisata.

Akses yang Berliku tapi Mengasyikkan

Ollon masih alami [image source]

Sebelum memutuskan untuk datang ke padang Telletubies yang sangat memukau ini, kamu harus menyiapkan mental. Mengapa demikian? Karena jalur sebelum sampai ke lokasi cukup berliku dan beberapa bagian jalan sangat berbahaya. Jalan belum dibangun dengan baik sehingga pemerintah setempat berniat mengatasinya.

The Lost Paradise of Tana Toraja [image source]

Selain medan berliku yang cukup menantang dan menguras adrenalin. Kiri dan kanan dari jalan adalah bukit terjal dan juga jurang yang curam. Motor biasa akan kesusahan untuk sampai ke sini sehingga disarankan menggunakan motor trail atau kendaraan lain yang hebat pada medan pegunungan.

Banyak Peternakan Kuda Loh

Peternakan Kuda Ollon [image source]

Sebelum mendadak berubah jadi destinasi wisata yang digandrungi oleh banyak orang. Kawasan Ollon adalah lokasi peternakan dan perkebunan. Warga setempat banyak mengelola lahannya untuk dijadikan kebun dan memanfaatkan tanah lapangnya untuk angon sapi dan juga kuda.

Peternakan Kuda dan Sapi di Ollon [image source]

Pengunjung yang datang ke sini bisa menikmati pemandangan yang indah, bermain di sungai yang mengalir di bawah, atau mengunjungi peternakan kuda. Oh ya, kalau kamu ke sini, jangan sungkan untuk belajar menunggang kuda yang dimiliki penduduk lokal. Dijamin seru dan menantang!

Buat Kamping juga Asyik Banget

Kamping di Ollon [image source]

Bukit Telletubbies ala Tan Toraja ini memang masih baru. Namun, keindahan yang ditawarkan bikin geleng-geleng kepala. Hampir setiap angle dari lembah dan perbukitan ini fotogenik. Semua bisa disambar dengan kamera sehingga kamu pasti betah.

Camping di Ollon Tana Toraja [image source]

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan ini lebih lama, padang rumput yang luas membentang bisa dijadikan camping ground. Kamu bisa mendirikan tenda di sini dan menikmati malam alat perbukitan sunyi Tana Toraja yang menentramkan. Oh ya, jangan lupa liat langit malam di kawasan ini yang bebas polusi cahaya.

Nama: Wisata Ollon

Alamat: Buakayu, Bonggakaradeng, Buakayu, Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan 91872, Indonesia

Inilah ulasan singkat tentang wisata Ollon yang menjadi primadona baru di Tana Toraja. Semoga ke depannya destinasi wisata ini bisa dikembangkan dengan baik dan dijaga kealamiannya agar tidak rusak!

9. MUSEUM NE’ GANDENG

Mengenal Budaya Toraja di Museum Ne’ Gandeng

Mengenal Budaya Toraja di Museum Ne’ Gandeng. Assalamualaikum trip-er, apa kabar nih? Semoga baik-baik saja ya. Ini lanjutan dari kiriman foto mas Erwin, kalau sebelumnya mas Erwin mengirimkan foto Air terjun Mata Buntu ( Baca : Wisata Air Terjun Mata Buntu Luwu Timur ) kali  ini yang akan Mari NGEtrip review adalah wisata Museum Ne Gandeng. Mungkin ini pertama kalinya Mari NGEtri megulas wisata museum. So, cekidot.hehe

Museum Ne Gandeng teletak di Desa Palangi, Kecamatan Sa’dan Balusu, Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke Museum Ne Gandeng, trip-er akan melewati Jembatan Ne’ Gandeng yang dibangun oleh Yayasan Keluarga Besar Ne’ Gandeng. Ditambah lagi  pemandangan sawah di kiri-kanan jalan begitu mempesona. Petrus Pasulu, anak bungsu Ne’ Gandeng dari 11 bersaudara menuturkan tempat ini awalnya merupakan tempat pelaksanaan prosesi pemakaman Ne’ Gandeng yang meninggal pada tanggal 3 Agustus 1994.

Menurut Petrus, ide pembangunan tempat ini yakni manusia Toraja sangat menghormati para leluhurnya. Semasa hidup Ne’ Gandeng sangat memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar. “Bahkan Ne’ Gandeng usulkan listrik masuk desa dan biayanya dari menjual kerbau,” tutur Petrus. Di Museum Ne’ Gandeng, trip-er akan menemukan pondok permanen yang berbentuk rumah adat Toraja. Pondok ini dimasudkan sebagai tempat menginap keluarga dan tamu yang datang melayat. Di tempat inilah, selain digunakan oleh keturunan Ne’ Gandeng untuk melaksanakan prosesi pemakaman adat Toraja juga diperuntukkan bagi siapa saja warga Toraja yang ingin menggelar acara serupa.

Itulah sedikit ulasan tetang Museum Ne Gandeng, kita bisa bnyak belajar tentang budaya Toraja dari museum ini. Bagaimana trip­-er, tertarik untuk ngetrip dan belajar budaya ke Museum Ne Gandeng akhir pekan ini?. Mari NGEtrip dan terus lesatikan keindahan alam dan Wisata Indonesia.

8. KE’TE’KESU

Perjalanan Tak Berujung Tengkorak Berserakan di Kete Kesu

              
Kete Kesu lebih dikenal sebagai objek wisata rumah adat masyarakat Tana Toraja atau yg lebih dikenal dengan sebutan Tongkonan. Tetapi di Kete Kesu sebenar nya terdapat pula makam/kuburan kuno masyarakat sekitar yg lokasi nya ada di belakang sekitar 100 meter dari Tongkonan2 tersebut
 
Tongkonan

Lakasi nya sangat mudah di jangkau karna jarak nya mmg tidak terlalu jauh dari kota rantepao, terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan Indonesia.

Tongkonan-tongkonan disini lengkap dengan ornamen2 khas tana toraja, serta tanduk kerbau yg di susun rapi meningkat ke atas di depan rumah adat nya. Semakin tinggi tanduk kerbau yg terpasang di depan rumah, menunjukan semakin tinggi pula status sosialsang pemilik rumah.

 
Tanduk Kerbau Menunjukan Status Sosial

Tongkonan di Kete Kesu di didirikan oleh Puang Ri Kesu serta diwariskan secara turun temurun ke kerabat nya. Tongkonan di Kete Kesu ini sekarang sudah tidak di tinggali tetapi masih terawat dan di jadikan tempat pertemuan serta tempat upacara adat. Oh yaa keturunan Puang Ri Kesu masih ada hingga sekarang dan merawat tempat ini menjadi cagar budaya.

Kete Kesu ini berada di Toraja bagian selatan, kalo waktu kunjungan kita hanya 1 hari bisa ke Londa, Lemo, Kete Kesu & Suaya (Kuburan Raja2 Sanggala). Toraja mmg terkenal dengan wisata makam alias hampir semua yg menjadi objek wisata berupa kuburan peti2 mati hahaha. Jadi jgn heran kalo kita berkunjung ke tengkorak dan peti mati melulu.

 
Menyimpan Banyak Jenazah Didalam Lingkaran Peti
 
Patung2 Didalam Ini Bernilai Tinggi
 
Tengkorak Di Dalam Peti Yang Terbuka

Di Kete Kesu juga terdapat peti2 mati yg umur nya sudah ratusan tahun, ada yg hanya di letakan di tanah, ada yg di gantung diatas tebing, ada pula yg di masukan di dalam gua. Disini kami juga melihat banyak patung2 orang2 yg sudah meninggal yg di letakan di dalam lubang tebing semacam gua dan di tutup pagar dan di beri gembok. Disini kita banyak melihat tengkorak2 berserakan dimana-mana, saya membayangkan kalo malam mungkin tengkorak2 ini saling bercengkrama xixiixixiix.

 
Banyak Peti Mati Digantung Didinding Tebing

Menurut penduduk setempat, banyak sekali pencurian patung2 tersebut dan di jual yg harga nya bisa mencapai ratusan juta. Patung2 ini memiliki nilai magis dan juga nilai sejarah yg sangat tinggi bagi masyarakat Tana Toraja. Banyak sekali peminat dari patung2 tersebut, sehingga makin tinggi pula kasus pencurian nya.

 
Peti Mati Tersimpan Di Gua

Tongkonan yg terkenal di Toraja sebenar nya ada lagi selain Kete Kesu yaitu Pallawa, disana juga terdapat pengrajin tenun khas toraja. Tetapi kami tidak sempat kesana karna keterbatasan waktu jadi cukup ke Kete Kesu saja.
Dikete kesu juga terdapat penjual cindramata dan warung jual makanan dan minuman jadi kita bisa berbelanja disini.

7. AIR TERJUN 7 TINGKAT (Sarambu Marintang Toraja)

TORAJA PUNYA AIR TERJUN 7 TINGKAT (Sarambu Marintang Toraja)

Anda Para Traveling yang suka Wisata Air Terjun, Ngak boleh Ketinggalan untuk Wisata yang Satu ini “AIR TERJUN 7 TINGKAT (SARAMBU MARINTANG TORAJA)”. Lagi-Lagi bicara Soal Toraja, Kemarin Sempat Heboh Soal OLLON Kemudian GUMUK PASIR itukan? Sekarang Toraja Hadir Lagi memperkenalkan Wisatanya yang Baru. Berikut Kita Ulas sama-sama Hasil Explore “AIR TERJUN 7 TINGKAT-SARAMBU MARINTANG TORAJA”

6. SUAYA KING’S GRAVE

Suaya King’s Grave: Makam Ningrat Sangalla’

 
Kubur Batu Suaya, Makam Raja-raja Sangalla’

Pesta Rambu Solo paling besar dan meriah adalah saat pemakaman Raja Sangalla terakhir, Puang Lasso Rinding atau yang dikenal Puang Sangalla’, pada tahun 1972. Saat itu juga Rambu Solo Puang Sangalla didokumentasikan oleh National Geographic sehingga menjadikan Tana Toraja mulai masyhur di dunia internasional. Semenjak itu, banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang ke Toraja dan menyaksikan upacara Rambu Solo.

“Kita akan ke Suaya. Ke tempat makam raja-raja Sangalla’ dan keluarganya.” Basho menginformasikan tujuan selanjutnya. Daerah Sangalla terletak di sebelah timur Makale sekitar 10 km.

Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Mendung yang dari tadi menggelayut, perlahan-lahan membuka diri. Ia memberi kesempatan langit biru menjadi atap yang indah bagi Tana Toraja. Sayangnya, masih malu-malu. Belum sepenuhnya tulus mengantarkan matahari mengeringkan tanah-tanah yang basah, sisa hujan. Matahari pun terhijab lagi oleh mendung putih. Romansa langit biru yang menjadi kombinasi bumi hijau menguning masih sebatas imajinasi.

Tatkala masuk menyusuri area persawahan, kami berhenti. Sebuah tebing dengan pahatan persegi panjang berlubang-lubang menyambut pandangan kami. Kosong tak ada isinya

Sebuah kubur tanpa Tau tau. Tau-tau diselamatkan karena rawan pencurian.

“Harusnya di dalam lubang itu ada Tau-tau, patung boneka dari orang yang dikuburkan di tebing batu. Hanya saja oleh keluarganya, Tau-tau ini disimpan di Tongkonan yang terletak di bawahnya.” Jelas Basho.

“Lho kenapa disimpan? Tidak dipajang?”

“Tau-tau rawan dicuri. Banyak orang asing ingin mengoleksi Tau-tau. Mereka terpesona dengan aura keunikan dan keindahan Tau-tau. Padahal, Tau-tau dipercaya untuk melindungi keluarga yang masih hidup. “ Saya paham dan sependapat dengan Basho. Miris memang. Masih ada juga orang Indonesia yang mau mengorbankan kekayaan tradisi yang tak ternilai harganya demi memenuhi kebutuhan satu dua orang asing. Hanya demi memperoleh banyak uang.

Panorama persawahan dengan latar belakang batuan granit bergerigi sepanjang Makale-Suaya.

Perjalanan dilanjutkan ke Suaya. Panorama sawah bertingkat-tingkat memanjakan pandangan. Hutan di perbukitan hijau lestari. Jejeran pegunungan granit di kejauhan menyedapkan horison. Semakin elok tatkala formasi alam ini diselingi rumah-rumah Tongkonan yang begitu khas Toraja. Tak terasa, saya sudah tiba di tempat parkir Suaya.

Tau-tau berjejer rapi di atas tebing.

100 meter berjalan di setapak yang masih basah. Aroma kesakrakalan peristirahatan para raja dan bangsawan mulai terasa. Sayangnya, area ini terkesan kurang terawat. Rumput-rumput liar tumbuh sesuka hatinya. Tempat ini sepi pengunjung. Rasanya kami adalah satu-satunya pengunjung saat itu.

Sebuah tebing tegak lurus menjadi akhir pandangan mata saya. Kira-kira setinggi 70 meter. Puluhan Tau-tau menyambut saya dengan tangan terentang. Seperti sebuah sambutan yang ramah dari mereka untuk kehadiran saya.

Tau-tau Suaya termasuk yang tua di Toraja. Ada yang berusia hingga ratusan tahun. Mereka berjejer rapi di atas tebing dengan memakai pakaian adat khas Toraja. Tau-tau seluruh mendiang lengkap di Suaya. Di samping lubang Tau-Tau, ada beberapa lubang dengan pintu kayu yang di dalamnya jasad-jasad darah biru Sangalla ini ditaruh untuk dimakamkan.

“Lihat di bawahnya, ada kuburan berada di tanah.” tunjuk Basho. “Itu adalah pemakaman bagi bangsawan Sangalla yang beragama Islam.” Tertulis di nisan putih bernama Haji Puang Lai Rinding. Lahir tahun 1905, wafat 23 April 1988.  Makam Islam adalah keunikan yang menjadikan Suaya berbeda dibandingkan kuburan batu lain di Toraja.

Menurut Basho, Haji Puang Lai Rinding  adalah bangsawan Toraja yang merantau keluar dari Tana Toraja. Kemudian dia memeluk Islam hingga berhaji ke Mekkah. Meski demikian, sebagai orang Toraja, dia tetap menghormati leluhurnya dengan berpesan dikuburkan di tanah asalnya. Sebaliknya, orang Toraja juga menghormati agama Islam yang dianut bangsawan Lai Rinding ini. Penguburan di atas tanah adalah sebuah ‘komunikasi’ yang mengedepankan toleransi dalam masyarakat Toraja.

Makam muslim Bangsawan Sangalla’ Toraja. Berbeda dengan tradisi asli Toraja. 
Tanah adalah elemen suci bagi orang Toraja. Sehingga makam dibuat di atas tebing.

Dalam kepercayaan Suku Toraja, tanah dianggap sebagai elemen suci. Maka, masyarakat Toraja tidak akan mengubur mayat di dalam tanah, tetapi di dalam batu atau pohon. Secara geografis, tradisi ini dipengaruhi oleh bentang alam Toraja. Tana Toraja dihiasi oleh pegunungan dan batu granit raksasa sehingga memungkinkan tradisi itu dilaksanakan.

Tongkonan tempat menyimpan alat pekuburan

Di depan arah kanan dari kaki bukit dibangun Tongkonan untuk menaruh barang-barang milik mendiang. Di sampingnya ada pondok penyimpan beberapa perlengkapan penguburan. Ada juga bangunan cukup besar yang menyimpan beberapa barang kerajaan Sangalla. Hanya saja, sebagian besar barang kerajaan tak di sini, melainkan disimpan di Museum Buntu Kallando yang merupakan bekas istana Raja Puang Sangalla. Museum ini terletak di atas bukit di Desa Kaero, Sangalla, tak jauh dari Suaya.

Kuburan Batu Suaya merupakan persembahan kepada Puang Tamboro Langi’ dan keturunannya. Puang Tamboro Langi’ merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Kalindobulanan Lepongan Bulan (Tana Toraja). Menurut hikayat, dia turun dari langit di puncak Gunung Kandora di Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja pada pertengahan abad 4 M.

Tau-tau yang masih baru milik bangsawan Sangalla

Selanjutnya oleh keturunannya, yakni Puang Bullu Mattua, Kerajaan Lepongan Bulan dibagi menjadi tiga Kerajaan yaitu Makale, Sangalla’, dan Mangkendek. Pembagian ini dilakukan di atas suatu landasan sumpah yang disebut Basse Tallu Lembangna. Ketiga kerajaan ini berkuasa penuh memerintah dan mengatur wilayahnya masing-masing. Pemimpinnya disebut Puang Basse Kakanna Makale, Puang Basse Tanganna Sangalla’ dan Puang Basse Adinna Mengkendek.

Meski demikian, secara simbolis ada Puang Tomatasak Kalindobulanan Lepongan Bulan yang selalu dijabat oleh Puang Basse Tanganna Sangalla’ selama 13 periode mulai dari Puang Palodang sampai Puang Laso’Rinding (Puang Sangalla’). Kerajaan Sangalla mewarisi asli Lepongan Bulan karena Tongkonan Layuk Kaero yang merupakan Istana Lepongan Bulan dibangun oleh Puang Patta La Bantan itu berada di wilayah Sangalla’.

Hadir di Suaya, seperti melemparkan saya kepada sejarah panjang Tana Toraja. Khususnya masa lalu Kerajaan Sangalla. Namun, matahari perlahan beranjak naik. Sudah mulai menuju siang. Saya melangkahkan kaki kembali ke tempat parkir. Melangkahkan kaki kembali ke masa kini. Terjaga lagi pada kesadaran untuk menjelajahi khasanah Toraja. Masih banyak destinasi Toraja yang lain.

Deretan Tau-tau tua dengan tangan merentang. Seolah menyambut kehadiran pengunjung. @iqbal_kautsar

Tongkonan bekas keranda pembawa jenazah diletakkan di kaki tebing.

 

5. RILIGI PATUNG YESUS

Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja

Patung Yesus Raksasa ini dikatakan sebagai “Patung Tuhan Yesus” yang berdiri di puncak bukit yang bernama Buntu Burake. Patung Yesus Kristus ini dikatakan merupakan patung Yesus tertinggi kedua di dunia dengan tinggi kurang lebih 40 Meter, dimana Patung Yesus tertinggi pertama berada di Polandia dengan tinggi kurang lebih 52.5 Meter, dan tertinggi ketiga merupakan Patung Yesus Penebus yang sudah sangat terkenal, dimana patung tersebut berada di Rio De Janeiro, Brazil.

Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Wisata Religi/Wisata Rohani ini mungkin akan mendatangkan berkah tersendiri untuk pemerintah daerah tana toraja, karena banyak yang mengatakan bahwa patung ini patung yesus tertinggi di dunia, hal itu menjadi keunikan yang akan membuat semua orang penasaran dan pasti sangat ingin berkunjung ke tempat ini. Namun seperti yang saya jelaskan diatas patung ini merupakan tertinggi kedua di dunia.
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Patung ini dibangun dengan cara bagian-bagian patung dikirim secara terpisah kemudian dirakit ulang di buntu burake kemudian dipasang hingga berdiri. Bahan yang digunakan patung ini adalah yaitu perunggu sehingga patung ini mungkin bisa bertahan hingga puluhan tahun kedepan, asal kita sama sama menjaga keindahan dari tempat wisata ini.
Untuk anda yang ingin mengunjungi patung yesus di buntu burake, anda harus pergi ke buntu burake yang letaknya berada di belakang kota makale, setelah sampai di buntu burake, anda harus mendaki sedikit yang cukup menguras tenaga , namun itu tidak akan sia-sia karena anda dapat menyaksikan kemegahan patung yesus raksasa ini dari dekat.
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja
Demikian Ulasan Aneka Wisata Nusantara mengenai Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake Tana Toraja yang baru baru ini memberikan kejutan bagi para pecinta wisata di seluruh dunia melalui media sosial, hal ini pasti akan membuat anda tertarik dan penasaran untuk mengunjungi apalagi teman-teman yang beragama kristen. Salam Toleransi.

4. BATUTUMONGA KAMPUNG DI ATAS AWAN

tourtoraja Objek Wisata, Wisata Panoramic

Batutumonga merupakan kota kecil yang terletak di lereng Gunung Sesean di kecamatan Sesean Suloara, terletak 24 km sebelah utara dari kota Rantepao, memiliki panorama yang indah. Sepanjang perjalanan dari kota Rantepao menuju Batutumonga dilalui jalan yang berkelok-kelok dan pada beberapa ketinggian tertentu pemandangan yang sangat eksotik dapat dinikmati dengan suhu udara yang dingin dan segar. Pemandangan ke arah kota Rantepao dan Lembah Sa’dan yang berada di kejauhan di kaki gunung.

BatutumongaSalah satu point of view di Batutumonga

 Adapun pemandangan yang dapat dinikmati antara lain:

1. Tinimbayo

Tinimbayo berada ketinggian 1225 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’13.9” dan E 119°54’12.4”.

Tinimbayo Coffee Shop sebagai salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan bentang keindahan alam Toraja dari ketinggian. Dari sini, hamparan sawah dan deretan rumah tongkonan yang dikelilingi hutan bambu adalah pemandangan yang indah.

tinambayo01View dari Tinambayo

2. Restoran Mentirotiku

Restoran Mentirotiku berada ketinggian 1352 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’36.4” dan E 119°53’01.0”.

Sebelum Restoran Mentirotiku didirikan, rumah pemilik restoran ini  yang biasa disapa Pong Sobon berupa tongkonan (rumah adat Toraja) sering menjadi tempat persinggahan wisatawan untuk istirahat sambil menikmati keindahan alam. Atas saran dari guide dan wisatawan maka pada tahun 1990 restoran Mentirotiku didirikan.

Mentirotiku5View dari Restoran Mentirotiku

 Selain pemandangan hamparan sawah dan gunung, anda dapat bersantai di Restaurant Mentirotiku Batutumonga. Anda dapat menikmati makanan kuliner asli Toraja. Cool and  hot drink, makanan ringan dan lainnya yang disajikan.

Bagi anda yang ingin menikmati indahnya pemandangan lampu kota Rantepao di malam hari, di tempat ini tersedia penginapan dengan harga yang bervariasi.

3. Lo’ko Mata

Lo’ko Mata berada ketinggian 1458 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’03.2” dan E 119°51’32.1”.

Nama Lo’ko’ Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo’ko’ Mata sebelumnya bernama Dassi Deata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.

Lokko mataMenurut cerita disana pada abad ke-14 (1480) datanglah seorang pemuda bernama Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik. Selanjutnya pada abad ke-16 tahun 1675 lubang rang kedua dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke-17 lubang yang ketiga dibuat oleh Rubak dan Datu Bua’. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad XX (milenium III). Luas areal objek wisata. Lo’ko’ Mata ±1ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.

3. GUNUNG SESEAN

Wisata Gunung Sesean Toraja Utara

Gunung Sesean merupakan gunung yang paling terkenal di daerah toraja yang bisa anda gunakan sebagtuai tempat wisata mendaki anda untuk anda para pecinta alam maupun para pendaki gunung. Sebelum anda sampai di gunung sesean anda akan melihat banyak tempat menarik untuk di kunjungi sebelum mendaki ke gunung sesean.

Untuk bisa pergi ke kawasan gunung sesean ataupun mendaki di gunung sesean anda harus pergi ke anda harus datang ke kabupaten toraja utara,tepatnya di desa sesean yang merupakan kaki gunung sesean, dimana desa ini merupakan titik awal untuk memulai pendakian kita ke gunung sesean.

Pertama anda harus pergi ke Pos 1 Gn.Sesean dimana jalur menuju pos ini cukup becek ketika hujan dan tanah kering ketika musim kemarau. Setelah itu anda lanjutnya ke pos 2 yang merupakan tanjakan lagi akan tetapi disini ada tangga berupa beton.

Setelah itu anda langsung menuju ke Pos 3 yang jalanannya tanjakan, sama dengan jalan ke pos 4, begitupun di pos 5 jalanannya merupakan jalan tanjakan yang memacu adrenalin untuk mendaki, karena jalurnya sangat curam, berkelok dan licin karena di  jalur ini sering terjadi hujan.

pada saat mendaki anda sebaiknya berpegangan dengan ranting-ranting pohon yang ada di dekat anda, karena jalur ini masih berupa hutan belantara (tertutup). Akan tetapi yang menguntungkan yaitu jarak antara pos yang tidak terlalu jauh.

Jalur dari Pos 5 Gn.Sesean, ke Pos 6 Gn.Sesean merupakan jalur yang landai tapi masih agak menanjak, dari jalur inilah anda bisa menikmati indahnya pemandangan alam yang ada di Gunung Sesean. Diperjalanan nanti akan ada keunikan yang anda temui di antara banyaknya batu-batu besar disana, akan ada batu yang mirip dengan wajah Bob Marley, maka dari itu batu ini dinamakan Bukit Bob Marley.

Wisata Gunung Sesean Toraja Utara

Tiba di Pos 6 Gn.Sesean anda bisa menjadikan tempat ini sebagai tempat peristirahatan karena disini anda bisa menemukan sumber air, Selanjutnya anda harus pergi ke Pos 7 Gn.Sesean tapi di pos 7 anda sebaiknya berhati-hati karena anda akan melewati pinggiran jurang. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju pos 8 gn.sesean, dimana pos 8 merupakan jalur menanjak dan sangat licin.dan dari sini anda bisa langsung ke puncak atau Pos 9,untuk menikmati sunset pada sore hari, sunrise pada pagi hari dan indahnya kelap-kelip lampu di toraja pada malam harinya.

Di Puncak Gn.Sesean anda bisa melakukan banyak kegiatan selain menikmati keindahan alam dari atas, anda bisa berfoto bersama teman,menghirup udara segar dingin, mencari view dari sudut yang berbeda diatas puncak.

Wisata Gunung Sesean Toraja Utara

Untuk anda yang ingin menginap diatas Puncak Gn.Sesean sebaiknya anda memperhatikan kekuatan ikatan tenda anda, karena di puncak anginnya kencang dan kadang terjadi badai, jadi sebaiknya anda yang menginap di puncak mengikat tenda anda dengan keras dan kencang.

2. LOLAI “NEGERI DI ATAS AWAN”

Lolai, Surga Baru Wisata Tana Toraja

Menyambut matahari terbit dari Negeri di atas awan, Lolai, Tana Toraja

Lolai menjadi surga baru wisata di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Dari ‘Negeri di Atas Awan’ ini, wisatawan disuguhkan gumpalan awan putih sembari menyambut terbitnya matahari pagi.

Jalan-jalan ke Tana Toraja, sempatkan lah naik ke bukit bernama Lolai di Toraja Utara. Lolai adalah surga baru bagi Toraja. Dari puncak bukit ini, wisatawan disuguhi pemandangan indah berupa gumpalan awan menghampar di bawah, memayungi kota Toraja. Tak heran, bila Lolai juga terkenal dengan sebutan Negeri di Atas Awan. Dari atas bukit ini, wisatawan sekaligus menyambut matahari terbit.

“Lolai jadi destinasi baru untuk wisata di Tana Toraja. Baru popular awal 2016 ini,” kata Arsan, pemandu wisata, kepada Investor Daily di Lolai, Toraja, pertengahan November 2016.

Untuk bisa mencapai ke Negeri di Atas Awan, wisatawan disarankan berangkat sebelum matahari terbit, sekitar pukul 4.00 WITA. Tak perlu repot mendaki, bukit Lolai bisa dicapai dengan mobil. Hanya setengah jam dari jalan utama di bawah bukit, Investor Daily yang ikut rombongan Jurnalist Tour yang digelar OT Group, akhirnya sampai di Negeri di Atas Awan setelah melewati sawah-sawah yang cantik.

Wow, benar-benar Negeri di Atas Awan. Gumpalan awan terhampar bagaikan kapas. Perlahan tapi pasti, semburat jingga sinar matahari menyeruak dari gumpalan putih tersebut. Selamat pagi, Toraja!

Lolai juga menyediakan penginapan di rumah adat Toraja, Tongkonan. Satu Tongkonan cukup untuk lima orang dewasa dengan sewa sekitar Rp300 ribu per malam. Tenda-tenda kecil untuk dua orang, juga tersedia dengan sewa Rp100 ribu per malam.

1. LO’KO’ MATA

Lo’ko’ mata adalah salah tempat wisata pekuburan yang ada di daerah Toraja. Pekuburan di lo’ko’ termasuk ke dalam liang pa’ atau liang yang dipahat. Disebut lo’ko’ mata karena memiliki bentuk seperti mata yang ditunjukkan dengan banyaknya liang yang di pahat pada satu batu besar.

Untuk memahat liang biasanya dibutuhkan waktu 1 – 3 bulan. Duba-duba biasa diletakkan didepan batu Duba-duba yang bentuknya seperti rumah toraja kecil, yang dibagian tengahnya diletakkan peti orang mati.